Bagaimana Politik Adu Domba atau Devide et Impera Diterapkan Sebenarnya?
Politik adu domba atau politik pecah belah atau dalam bahasa Belanda disebut Devide et Impera adalah
suatu upaya dari Belanda untuk menguasai sebuah wilayah dengan
menggunakan adu domba dalam sebuah sistem kerajaan. Upaya mengadu domba
yaitu menggunakan kombinasi strategi politik, ekonomi dan militer yang
bertujuan untuk mendapatkan serta menjaga wilayah kekuasaan dengan cara
memecah belah kelompok besar menjadi kelompok – kelompok kecil agar
lebih mudah ditaklukkan. Dalam arti lain, devide et impera juga
merupakan upaya pencegahan kelompok – kelompok kecil untuk bersatu
membentuk kelompok besar yang lebih kuat. Belanda menggunakan sistem devide et impera
sejak awal memasuki Nusantara. Politik adu domba pada abad - 17 sangat
digemari VOC untuk menguasai suatu daerah, dengan cara inilah Belanda
yang bahkan jumlahnya jauh lebih sedikit dari pribumi bisa menguasai
wilayah nusantara.
Secara antropologi, negara Indonesia adalah negara heterogen dengan adat
budaya, agama, suku dan ras. Inilah yang memudahkan bangsa Belanda
untuk melakukan politik adu domba. Dalam memecah belah, Belanda
menggunakan aksi isu atau provokasi, propaganda, desas - desus, bahkan
fitnah kepada kekuasaan yang ada dengan disusupi permusuhan besar.
Politik memecah belah ini menggunakan campuran strategi politik, ekonomi dan militer. Pelaksanaan sistem ini yaitu dengan mengangkat satu pemimpin untuk dijadikan calon pemimpin tandingan yang telah ada. Politik pecah belah diwujudkan dengan menentang suatu kekuasaan baik yang berada di pemerintahan maupun yang ada di masyarakat. Akan lahir dua pihak di dalam satu badan, baik di masyarakat maupun kerajaan, salah satu pihak tersebut dibantu Belanda sedangkan yang lain dipinggirkan. Belanda kemudian memunculkan isu – isu ketidakpercayaan terhadap pemimpin yang lama agar suatu kerajaan menjadi tidak solid. Bahkan terkadang ada bumbu – bumbu permusuhan dalam tubuh keluarga kerajaan yang pantas menduduki singgasana kerajaan diluar garis keturunan raja. Teknik yang digunakan Belanda dalam memecah belah adalah agitasi, propaganda, desas – desus dan bahkan fitnah.
Contoh politik pecah belah adalah dengan memberi kehidupan layak suatu kelompok politik yang bertujuan agar lebih percaya ke pihak Belanda daripada kerajaannya sendiri. Selanjutnya kelompok tersebut menjadi duri dalam daging sebuah kerajaan.
Politik memecah belah ini menggunakan campuran strategi politik, ekonomi dan militer. Pelaksanaan sistem ini yaitu dengan mengangkat satu pemimpin untuk dijadikan calon pemimpin tandingan yang telah ada. Politik pecah belah diwujudkan dengan menentang suatu kekuasaan baik yang berada di pemerintahan maupun yang ada di masyarakat. Akan lahir dua pihak di dalam satu badan, baik di masyarakat maupun kerajaan, salah satu pihak tersebut dibantu Belanda sedangkan yang lain dipinggirkan. Belanda kemudian memunculkan isu – isu ketidakpercayaan terhadap pemimpin yang lama agar suatu kerajaan menjadi tidak solid. Bahkan terkadang ada bumbu – bumbu permusuhan dalam tubuh keluarga kerajaan yang pantas menduduki singgasana kerajaan diluar garis keturunan raja. Teknik yang digunakan Belanda dalam memecah belah adalah agitasi, propaganda, desas – desus dan bahkan fitnah.
Contoh politik pecah belah adalah dengan memberi kehidupan layak suatu kelompok politik yang bertujuan agar lebih percaya ke pihak Belanda daripada kerajaannya sendiri. Selanjutnya kelompok tersebut menjadi duri dalam daging sebuah kerajaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar