Pembodohan Sejarah dan Klaim
Belanda Jajah Indonesia 350 Tahun
Pangeran
Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah da surban, ketika beristirahat bersama
pasukannya di tepisan sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.
Selama
puluhan tahun.seluruh rakyat Indonesia di sekolah membaca buku-buku Sejarah
Nusantara, yang memuat data-data yang salah, berorientasi ke barat dan bahkan
banyak yang masih merupakan peninggalan penjajah atau dari sudut pandang penjajah.
Demikian
juga dengan 'Sejarah Indonesia', yang tidak memberikan informasi yang lengkap
dan akurat mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia, setelah
bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Namun bukan
hanya karena penulisan sejarah saja yang salah, melainkan pengetahuan dan
pemahaman mengenai sejarah juga sangat minim dan salah.
Belanda
menjajah Indonesia 3,5 abad. Jepang menjajah Indonesia 3,5 tahun. Demikianlah
pendapat hampir seluruh rakyat Indonesia hingga kini. Yang sehubungan dengan
masa penjajahan Belanda 3,5 abad, tidak pernah dijelaskan secara rinci, kapan
dimulainya penjajahan Belanda di Indonesia, dan kapan berakhirnya.
Yang
berpendapat bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun tidak
terbatas pada rakyat biasa, bahkan beberapa (mungkin semua) menteri dan paar
elit pemimpin negara ini sekalipun sampai sekarang masih berpendapat seperti
ini, sebagaimana diucapkan oleh Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu
beberapa waktu lalu, dan Menteri ESDM, Sudirman Said, ketika meresmikan
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Bantul pada 4 Mei 2015.Tidak tertutup
kemungkinan, bahwa semua pimpinan nasional- berpendapat seperti ini.
Adalah
Bonifacius Cornelis de Jonge, yang menjadi Gubernur Jenderal India-Belanda ke
63, dari tanggal 12 September1931 sampai 16 September1936, yang tahun 1935
mengatakan:
”Als ik met
nationalisten praat, begin ik altijd met de zin: Wij Nederlanders zijn hier al
300 jaar geweest en we zullen nóg minstens 300 jaar blijven. Daarna kunnen we
praten.” (Apabila
saya berbicara dengan para nasionalis , saya selalu memulai dengan kalimat:
Kami Belanda telah di sini 300 tahun dan kami bahkan akan tinggal paling
sedikit 300 tahun lagi. Kemudian kita bisa bicara).
Di Belanda
dikenal kata-kata bijak, yaitu: “Hoogmoed komt voor de val” (Keangkuhan datang
menjelang kejatuhan). Gubernur Jenderal berikutnya, ke 64, JonkheerAlidius
Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer 1936 – 9.3.1942, adalah
penguasa Belanda terakhir di India Belanda. Setelah menyerahnya pemerintah
India Belanda kepada Jepang pada 9 Maret 1942, dia semula dibawa ke Taiwan,
kemudia ditahan di Kamp di Hsien (sekarang bernama Liaoyuan) di Mancuria,
sampai dibebaskan pada 16 Agustus 1945, setelah Jepang menyerah kepada sekutu.
Tidak
diketahui dengan pasti, kapan kalimat Bonifacius de Jonge tersebut mulai
digunakan oleh para pemimpin Indonesia, sebagai slogan yang konon untuk
membangkitkan emosi, kemarahan dan semangat rakyat Indonesia. Juga tidak
diketahui, siapa yang memulai dengan angka 350 tahun. Bagaimana perhitungannya.
Sampai awal
abad 20 Belanda belum sepenuhnya menguasai seluruh Asia Tenggara/Nusantara.
Kesultanan Aceh baru jatuh tahun 1904, Kerajaan Badungdi Bali berakhir dengan
Puputan Badung tahun 1906, Kerajaan Batak jatuh tahun 1907 dengan tewasnya
Sisingamangaraja XII dan Kerajaan Klungkung di Bali berakhir dengan Puputan
Klungkung tahun 1908
Seandainya
hal ini benar adanya, yaitu Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun,
bukankah ini sangat memalukan, bahwa Negara sekecil Belanda dapat menjajah
wilayah yang belasan kali lipat dari negaranya, dengan penduduk yang lebih dari
15 kali lipat jumlahnya dari penduduk Belanda? Hal ini sering menjadi
olok-olokan di kalangan orang Indonesia sendiri, yang tidak memiliki rasa
nasionalisme, atau bahkan mungkin pro Belanda. Dengan demikian, kalimat itu
menjadi Bumerang untuk Indonesia.
Jenderal
Ryamizard Ryacudu ketika menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD),
dalam sambutannya pada peringatan Palagan Ambarawa yang diperingati sebagai
Hari Juang Kartika TNI AD bulan Desember tahun 2003, salah menyampaikan
peristiwa tersebut. Dikatakan a.l., bahwa:”Ketika itu, Presiden Soekarno
ditawan, pemerintahan lumpuh, dan Belanda dengan militernya mengancam akan
kembali menguasai Indonesia. TNI di bawah pimpinan Jenderal Soedirman
menunjukkan eksistensinya secara heroik. Dengan persenjataan sederhana, TNI
bersama rakyat mampu memenangi pertempuran untuk menjaga integritas bangsa dan
Negara.”
Catatan:
Presiden Sukarno ditawan oleh Belanda pada 19 Desember 1948, yaitu ketika
Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua, sedangkan peristiwa Palagan
Ambarawa terjadi pada bulan Desember 1945, dan pada waktu itu belum TNI,
melainkan namanya adalah Tentara Keamanan Rakyat - TKR (kemudian pada 7 Januari
1946 namanya diganti menjadi Tentara Rakyat Indonesia dan pada 3 Juli 1947
menjadi Tentara Nasional Indonesia – TNI, sampai sekarang). Yang dilawan pada
bulan Desember 1945 adalah tentara Inggris, bukan tentara Belanda.
Sebagai contoh
yang paling fatal karena sangat banyak memuat kesalahan –menurut pendapat saya-
adalah buku sejarah KARANGAN I Wayan Badrika Kurikulum 1994 (Edisi kedua):
“Sejarah Nasional Indonesia dan Umum” untuk SMU Kelas 2.
Selain
menggunakan terminologi dari sudut pandang penjajah, seperti pelaut Inggris
“MENEMUKAN” Australia (halaman 22), para penjarah, perampok emas dan pembantai
penduduk asli di benua Amerika yang datang dari Spanyol dan Portugal disebut
sebagai “PARA PENAKLUK DUNIA BARU”. Kata “PENAKLUK” merupakan terjemahan dari
bahasa Spanyol “Conquistador” (halaman 19). “PENEMUAN” Lautan Teduh, Selat
Magelhaens dan Tanjung Harapan Baik (Cape of Good Hope) merupakan “KARYA YANG
MENGAGUMKAN” (halaman 23).
Padahal
Jalan Sutra (Silk Road) perdagangan dari Asia Timur sampai ke Mesir telah
berusia 5000 tahun. Di Lembah Bamyn Afghanistan terdapat dua patung Buddha
terbesar di dunia, yang sudah berusia 1.500 tahun. Pangeran Siddharta Gautama
yang kemudian dikenal sebagai Buddha berasal dari lahir di Lumbini, sekarang
termasuk Nepal. Sangat disayangkan, kedua patung Buddha tersebut tahun 2001
dihancurkan oleh Taliban.
Demikian
juga jalur laut perdagangan antara Tiongkok sampai ke Mesir, yang tentunya
harus melalui Nusantara/Selat Malakka. Para pedagang rempah-rempah telah
berdagang sampai ke Maluku, beberapa ratus tahun sebelum datangnya orang-orang
Eropa. Jadi APA YANG MENGAGUMKAN DARI ORANG-ORANG YANG RATUSAN TAHUN BELAKANGAN
DATANG?
Mengenai
alasan Pangeran Diponegroro bangkit melawan Belanda, ditulis “SEBAB-SEBAB KHUSUS”,
yaitu “pembuatan jalan melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Rejo”
(halaman 67). Kalimat ini masih tertera dalam buku I Wayan Badrika berdasarkan
Standar Isi 2006 (halaman 166).
“Sebab
khusus” yang sama, yaitu “PENYEBAB KHUSUS Perang Diponegoro terjadi tahun 1825,
yaitu ketika Belanda hendak membuka jalan baru dari Yogyakarta ke Magelang
melalui Tegal Rejo, tempat makam leluhur Pangeran Diponegoro berada”, tetap
digunakan dalam buku KARANGAN Samsul Farid, Kurikulum 2013, Sejarah untuk SMA/MA
Kelas XI, halaman 182.
Dalam orasi
ilmiah (yang saya hadiri) yang diberikan pada waktu inaugurasi sebagai Guru
Besar Tamu di Universitas Indonesia tanggal 1 Desember 2014, Prof Dr Peter
Carey yang melakukan penelitian selama puluhan tahun mengenai Pangeran
Diponegoro, mengatakan a.l.:
”… I am
still struck at how effectively the Dutch brainwashed the pribumi population in
the aftermath of the Java War to regard Diponegoro as a leader who was only
concerned with his own personal ambitions – his supposed frustration at not
being appointed sultan, and his outrage at the building of a road across his
estate being touted by a succession of Dutch historians as the principle
reasons for his July 1825 rebellion.
Nowhere is
there any mention in these histories of the deeper socio-economic problems
which precipitated the five-year conflict, problems which would repeat
themselves in the Southern Netherlands during the brief period of the United
Kingdom of the Netherlands (1815- 30).
This would
end with the Belgian Revolt of August 1830, a revolt backed – in contrast to
the Javanese anti-colonial struggle of 1825-30 - by the major European powers…”
(Prof. Dr.
Peter Carey-Inaugural Lecture as Adjunct Professor, 1 Dec 2014 Page 7 )
{Terjemahannya
yang dilakukan sendiri oleh Prof. Peter Carey:
Saya masih
heran betapa efektif Belanda mencuci otak penduduk
pribumi pada masa setelah Perang Jawa dengan mencap Diponegoro sebagai
seorang pemimpin yang hanya mementingkan ambisi pribadinya - frustrasi karena
tidak diangkat sebagai sultan, dan memberontak hanya sebab sepele, yaitu marah
bahwa tanah miliknya dan pemakaman keluarga dilintasi jalan baru pada bulan
Juli 1825.
Masalah
sosial-ekonomi di pedalaman Jawa tengah-selatan yang memicu pemberontakan massa
pada awal Perang Diponegoro sama sekali tidak dibahas oleh sejarawan Belanda.
Dan yang aneh disini – bukan hanya warga pedalaman Jawa tengah-selatan yang
menderita akibat kepicikan Belanda tapi juga penduduk di Belanda Selatan
selama periode yang sama - Persatuan Kerajaan Belanda (1815-1830).
Hal ini akan
berakhir dengan Revolusi Belgia Agustus 1830, pemberontakan yang didukung –
sesuatu yang tidak terjadi dengan perjuangan anti-kolonial Jawa pada Perang
Dponegoro (1825-1830) - oleh negara-negara adidaya Eropa.}
Seandainyapun
peristiwa pembuatan jalan melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro memang
benar adanya, apakah hal ini perlu dicantumkan dalam buku sejarah selama
puluhan tahun sebagai “sebab khusus”? Bukankah versi Belanda ini memberi kesan,
bahwa Pangeran Diponegoro seorang egois, yang marah dan bereaksi setelah milik
pribadinya diambil oleh Belanda?
HARUS
DIJELASKAN DAN DISEBUTKAN SUMBER ATAU REFERENSI MENGENAI “SEBAB KHUSUS” INI!
Kesalahan
lain dari buku I Wayan Badrika ada di halaman 287, mengenai pertempuran di
Surabaya tanggal 28 – 29 Oktober 1945, di mana ditulis a.l.:
“… Bahkan
pemimpin pasukan Sekutu (Inggris) Brigadir Jenderal Mallaby berhasil ditawan
oleh para pemuda.”
Tidak ada
satu sumberpun yang menulis, bahwa Brigjen Mallaby pernah ditawan oleh para
pemuda!
Masih
KARANGAN I Wayan Badrika Kurikulum 1994. Penulisan yang salah di halaman 242:
“… Pada
tanggal 8 Desember 1941 pecahlah perang di Lautan Pasifik, Jepang terlibat di
dalamnya …”.
Kalau yang
dimaksud adalah penyerangan Jepang ke Pangkalan militer Amerika di Pearl
Harbor, Hawaii, ini terjadi tanggal 7 Desember 1941.
“… Bahaya
kuning…”, adalah dari sudut pandang penjajah dari Eropa/Amerika.
“ …Hindia
Belanda termasuk di dalam front ABCD(Amerika Serikat, Britania, Cina,
Dutch/Belanda dengan Jenderal Wavel (Inggris) sebagaiPanglima tertinggi,
berkedudukan di Bandung …”
“Front ABCD”
tidak ada. Yang ada adalah ABDACOM, yaitu American, British, Dutch Australian
Command yang dibentuk bulan Januari 1942. Panglima tertingginya adalah Jenderal
Sir Archibald Wavell.
“…begitu
kuatnya serangan musuh sehingga Hindia Belanda yang merupakan benteng
kebanggaan Inggris di Asia Tenggara jatuh ke tangan Jepang…”
Sejak kapan
India Belanda menjadi “Benteng Kebanggaan Inggris di Asia Tenggara?
Masih di
halaman 242:
“… Dalam
tempo sebulanJepang telah menguasaI Asia Tenggara seperti Indo China,
Muangthai, Birma, Malaysia, Philipina dan Indonesia. Jatuhnya Singapura pada
tanggal 15 Februari 1941ke tangan Jepang yaitu dengan ditenggelamkannya kapal
Induk Inggris yang bernama Prince of Wales dan Refulse sangat menggoncangkan
pertahanan sekutu di Asia…
…Namun
sisa-sisa pasukan sekutu di bawahpimpinan Karel Doorman (Belanda) sempat
mengadakan perlawanan di laut Jawa…”
Catatan
kesalahan:
1.
Nama kapal perang RePulse, bukan ReFulse.
2.
Prince of Wales dan Repulse bukan kapal induk. Prince of Wales adalah
BATTLESHIP (Kapal Perang). Repulse adalah BATTLECRUISER Penjelajah Perang).
3.
Keduanya tenggelam dalam perang laut tanggal 10 Desember 1941. Tanggal 15
Februari 1941 belum ada perang di Asia-Pasifik.
4.
Yang diserang Jepang bukan INDONESIA, melainkan India Belanda. INDONESIA baru
ada setelah 17 Agustus 1945.
5.
Rear Admiral Karel Doorman tidak memimpin “sisa-sisa pasukan sekutu.” Karel
Doorman adalah Panglima Armada Gabungan ABDACOM, dalam perang di laut Jawa
tanggal 27 Februari 1942. Dia tewas dan tenggelam bersama kapalnya De Ruyter.
6.
Pulau Jawa dikuasai total oleh Jepang tanggal 8 Maret 1942, dan tanggal 9 Maret
1942 pemerintah India Belanda resmi menyerah kepada Jepang.
Sangat luar
biasa, bahwa di satu halaman saja, halaman 242, terdapat sekian banyak
kesalahan/kengawuran. Apabila Kurikulum 1994 saja sudah demikian ngawurnya,
bagaimana dengan penerbitan sebelumnya? Menjadi tandatanga besar, mengapa
selama puluhan tahun, tidak pernah dilakukan penelitian mengenai isi dari
buku-buku sejarah untuk sekolah. Tidak ada samasekali daftar pustaka/referensi,
sehingga tidak diketahui darimana sumber penulisan tersebut.
Sumber : http://republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/12/25/p1httg385-pembodohan-sejarah-dan-klaim-belanda-jajah-indonesia-350-tahun-part1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar