Teknologi Cerdas, Ancaman atau
Tantangan buat Manusia?
Robot Asus Zenbo saat dikenalkan di Taiwan, Senin
(30/5/2016). Robot ini bisa bertindak laiknya teman di rumah, termasuk
berbincang. Robot Asus Zenbo saat dikenalkan di Taiwan, Senin (30/5/2016).
Robot ini bisa bertindak laiknya teman di rumah, termasuk berbincang.(Asus)
KOMPAS.com—“Dengan bantuan mesin dan 170 pekerja, per hari kami menghasilkan
66.000 pon (sekitar 30.000 kg) kacang mede, sementara dulu hanya 2.000 pon
(sekitar 907 kg) saat dikerjakan manual oleh 2.000 orang." Parafrase
tersebut adalah salah satu kutipan dari video dan artikel di situs Wall Street
Journal (WSJ) edisi 1 Desember 2017, tentang penggunaan mesin dan pengaruhnya
bagi industri, seperti dapat dilihat di link http://on.wsj.com/2zLujQT. WSJ
memulai sajian kontennya dari kesibukan pekerja di India mengupas biji mede.
Detail. Gambar lalu beralih ke industri serupa di Vietnam. Bedanya, di negara
ini proses produksi lebih banyak mengandalkan mesin. Hasilnya berlipat kali.
Tenaga manusia di industri mede Vietnam hanya untuk fungsi pengawasan dan
penanganan gangguan. Itu pun beberapa orang saja yang diperlukan untuk skala
berlipat kali industri serupa di India. Pada hari ini, tutur WSJ, Vietnam sudah
menggusur India sebagai pusat kacang mede dunia. Ilustrasi robot yang
menggantikan fungsi manusia. Ilustrasi robot yang menggantikan fungsi
manusia.(Thinkstockphotos.com) Mesin cenderung lebih presisi dalam
pekerjaannya. Pekerjaan berulang pun minim kesalahan. Memilah kualitas produk
pun tak mustahil dilakukan mesin. Penggunaan mesin yang bisa menggantikan kerja
manusia tak hanya terjadi di industri seperti cerita WSJ di atas. Hampir semua
lini industri memungkinkan penggunaan mesin—dari sederhana sampai cerdas—untuk
pekerjaan yang sebelumnya dipegang manusia. Teknologi cerdas makin mengemuka sejalan
dengan terus berkembangnya algoritma kecerdasan buatan ( artificial
intelligence atau AI). Serasa belum cukup, teknologi informasi pun
mengembangkan AI lebih lanjut ke ranah machine learning (ML) dan belakangan
deep learning (DL). Intinya, semua aktivitas yang selama ini dikerjakan
manusia—manual pakai tangan atau mekanik dengan bantuan mesin—dipelajari lalu
dikembangkan dan direplikasi dengan ML dan DL tersebut. Peralatan-peralatan
dibuat bisa menggantikan manusia dengan benaman peranti lunak cerdas. Salah
satu contoh terkini, urusan menyalakan dan menghidupkan lampu sudah bisa
dijalankan dengan bantuan sebuah speaker pintar. Speaker! Produk Google,
misalnya, telah beredar di pasaran. Seperti dalam film-film fiksi ilmiah,
teknologi informasi saat ini sudah bisa mewujudkan peranti seperti speaker itu
tadi yang mampu bercakap-cakap dan menjalankan berbagai perintah laiknya
asisten kita. LG Robot Hub, asisten di konsep rumah pintar LG, saat dipamerkan
di LG InnoFest 2017 di International Convention Center Jeju, Korea Selatan,
Selasa (7/3/2017). LG Robot Hub, asisten di konsep rumah pintar LG, saat
dipamerkan di LG InnoFest 2017 di International Convention Center Jeju, Korea
Selatan, Selasa (7/3/2017). (Kompas.com/Krisiandi) Pertanyaan yang lalu
mengemuka, di mana peran manusia pada masa mendatang? Atau, apakah pekerjaan
manusia akan benar-benar tergantikan oleh mesin dan teknologi informasi? “Saya
percaya, kreativitas manusia tak akan benar-benar terkejar teknologi. Jadi,
kemajuan teknologi ini semestinya (hanya) membuat manusia makin kreatif, tak
lagi semata mengerjakan pekerjaan rutin,” ujar VP of Machine Learning Amazon
Web Services ( AWS) Swami Sivasubramanian, dalam sesi wawancara khusus dengan
peliput dari Indonesia, di Las Vegas, Amerika Serikat, Kamis (30/11/2017).
Sejumlah kekhawatiran mengenai kehadiran teknologi yang memungkinkan
menggantikan peran manusia sudah beberapa kali muncul. Bahkan futurist seperti
Gerd Leonhard sampai khusus menulis buku berjudul Technology vs Humanisme,
sebagai respons atas menguatnya kekhawatiran tersebut. Seperti halnya Swami,
Leonhard juga menyebutkan bahwa area kerja manusia yang tak akan pernah bisa
digantikan mesin adalah yang berkaitan dengan kreativitas dan hal-hal
manusiawi. Hal-hal manusiawi itu, sebut Leonhard, mencakup pula soal intuisi,
kurasi, pemilahan ide, etika, empati, dan emosi. Untuk menguji apakah seseorang
atau perusahaan akan mampu berhadapan dengan mesin atau tidak, Leonhard
mengajukan sebuah pertanyaan sederhana. “Apa rencana Anda 5 tahun ke depan?”
sebut dia, saat berbicara di Jakarta, Selasa (25/7/2017). Kalau pertanyaan itu
tidak bisa dijawab dengan rinci, ujar Leonhard, seseorang atau perusahaan itu
harus khawatir soal masa depannya. Kesiapan menghadapi lompatan teknologi Forum
" AWS re: Invent 2017" makin menguatkan prediksi Leonhard soal
lompatan teknologi, terutama dalam konteks komputasi. Leonhard menyebut
lompatan teknologi dalam 20 tahun ini akan jauh melampaui capaian 300 tahun
terakhir. CEO Amazon Web Services (AWS) Andy Jassy di panggung utama AWS re:
Invent 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat, Rabu (29/11/2017) waktu setempat
atau Kamis (30/11/2017) WIB. CEO Amazon Web Services (AWS) Andy Jassy di
panggung utama AWS re: Invent 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat, Rabu
(29/11/2017) waktu setempat atau Kamis (30/11/2017) WIB.(KOMPAS.com/PALUPI
ANNISA AULIANI) AWS, anak perusahaan Amazon.com, kembali meluncurkan sejumlah
layanan baru di AWS re: Invent 2017. Fokusnya adalah memungkinkan kemunculan
aplikasi dan produk berbasis machine learning dan deep learning makin cepat
terjadi. Lebih dulu dikenal sebagai perusahaan penyedia layanan penyimpanan
komputasi awan (cloud)—penyimpanan data yang tak lagi mengharuskan pembelian
atau penyewaan server fisik oleh pemilik atau pengguna aplikasi—AWS sekarang
justru makin menguatkan layanannya pada machine learning dan deep learning. CEO
AWS Andy Jassy dalam pidato kuncinya di ajang AWS re: Invent 2017 menegaskan
bahwa perusahaannya sekarang bertujuan membantu setiap orang dan atau
perusahaan untuk makin mudah dan cepat membuat produk berbasis machine learning
dan deep learning. “Tidak semua perusahaan punya pakar machine learning.
Mempelajarinya dari awal juga tidak mudah. Prosesnya pun kompleks dan butuh
banyak skill. Kami ingin menjadi solusi, dengan memungkinkan para developer
mengerjakan aplikasi tanpa memusingkan apa yang ada di balik machine learning,”
papar Jassy, di Las Vegas, Amerika Serikat, Rabu (29/11/2017). Menurut Swami,
adaptasi memang dibutuhkan. Perusahaan media, misalnya, harus diakui sebagai
yang paling terdampak saat ini dengan lonjakan kemajuan di bidang teknologi
informasi. Persaingan yang dihadapi media tak lagi dengan sesama media tetapi
juga perusahaan teknologi informasi. Tahapan pemodelan yang mengadopsi machine
learning dalam paparan CEO Amazon Web Services (AWS) Andy Jassy, di Las Vegas,
Amerika Serikat, Rabu (29/11/2017) waktu setempat. Tahapan pemodelan yang
mengadopsi machine learning dalam paparan CEO Amazon Web Services (AWS) Andy
Jassy, di Las Vegas, Amerika Serikat, Rabu (29/11/2017) waktu
setempat.(KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI) “Tak ada kata lain selain adaptasi.
Tapi percayalah, kreativitas manusia itu tidak terbatas,” ujar Swami
membesarkan hati, saat berbincang dengan Kompas.com seusai wawancara khusus
dengan delegasi peliput dari Indonesia. Sebelumnya, dalam wawancara, Swami
bercerita tentang polah putrinya menyikapi sebuah isu, sebagai contoh betapa
kreativitas manusia adalah kunci dalam menyikapi perkembangan teknologi
informasi saat ini. “Tak ada yang bisa membayangkan mesin punya reaksi dan
pemikiran seperti cara anak saya ketika berbincang spontan dengan saya,” ujar
Swami. Adapun produk-produk yang diluncurkan AWS sampai hajatan tahunannya yang
keenam itu meliputi layanan (services) dari infrastruktur seperti framework dan
server, sampai wahana pembelajaran “instan” bagi para developoer mempelajari
machine learning yaitu AWS DeepLens. Di antara kedua “kutub” tersebut, AWS juga
menyediakan berbagai “perantara”, dari penyimpanan hingga pengelolaan. Semua
produk AWS yang—tentu saja—berbasis cloud, memungkinkan setiap orang menyewa
dalam ukuran kecil sampai sangat besar, membayar tagihan biaya sesuai pemakaian
saja, serta menyesuaikan kapasitas pemakaian sewaktu-waktu. Rincian kemampuan
kamera video AWS DeepLens, kamera yang disiapkan bagi para developer untuk
berlatih membuat aplikasi berbasis machine learning menggunakan pengenalan
kamera. Pengumuman keberadaan AWS DeepLens dilakukan di panggung utama AWS re:
Invent 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat, Rabu (29/11/2017) waktu setempat.
Rincian kemampuan kamera video AWS DeepLens, kamera yang disiapkan bagi para
developer untuk berlatih membuat aplikasi berbasis machine learning menggunakan
pengenalan kamera. Pengumuman keberadaan AWS DeepLens dilakukan di panggung
utama AWS re: Invent 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat, Rabu (29/11/2017)
waktu setempat.(KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI) Dengan layanan cloud, klaim
AWS, orang tak perlu selalu membeli mahal fasilitas fisik yang memiliki
kapasitas tertentu untuk mulai membangun aplikasi. Kapasitas disebut sebagai
salah satu kelemahan dari fasilitas fisik. Bisa jadi suatu alat memiliki
kapasitas besar sementara kebutuhan penggunaannya masih kecil. Sebaliknya,
kapasitas alat yang terbatas juga rentan butuh pembaruan terlalu cepat ketika
aplikasinya ternyata melejit dan banyak dipakai konsumen. Prospek Indonesia
Sebelumnya, Head of Customer Asia Pasific AWS Nick Walton mengatakan, visi AWS
sejak berdiri pada 2006 adalah untuk melahirkan perusahaan-perusahaan teknologi
dan startup laiknya generasi baru dari Facebook, Amazon, atau airbnb. Menurut
Walton, Indonesia juga sama besar peluangnya dengan negara lain untuk
memanfaatkan kemajuan teknologi informasi ini. “Indonesia boleh dibilang luar
biasa, dari perkembangan startup, berikut segmen dan sektor industrinya,” sebut
Walton. Walton berpendapat, tantangan yang sebelumnya banyak menahan laju
startup adalah infrastruktur yang mahal. Dari pemahaman ini, kata dia, AWS
memberikan alternatif solusi dalam layanan-layanannya yang ibarat kata bisa
dibeli dari skala “ketengan” hingga besar. “Anda hanya perlu membayar yang
dipakai. Kalau sukses dan bisa membesar, gampang saja juga untuk menambah
kapasitas (dari layanan kami),” kata Walton. Namun, lanjut Walton, ada
sejumlah tantangan yang perlu juga segera mendapat solusi dari Indonesia untuk
potensi yang ada dapat berkembang optimal. Kemampuan layanan Amazon SageMaker
dari Amazon Web Services yang diluncurkan di acara AWS re: Invent 2017 di Las
Vegas, Amerika Serikat, pada Rabu (29/11/2017) waktu setempat. Kemampuan
layanan Amazon SageMaker dari Amazon Web Services yang diluncurkan di acara AWS
re: Invent 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat, pada Rabu (29/11/2017) waktu
setempat.(KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI) Meski belum membuka kantor perwakilan
di Indonesia, ujar dia, AWS juga terus berkomunikasi dengan berbagai otoritas
negara tentang perkembangan teknologi informasi yang mereka garap. “Kami punya
banyak konsumen di Indonesia dan bisnisnya pun cepat tumbuh. Ada banyak jenis.
(Namun), startup memang lebih terbuka soal penggunaan teknologi seperti (yang
kami kembangkan) ini,” imbuh Walton. Harus diakui, kata Walton, AWS di
Indonesia baru dikenal sebatas layanan penyimpanan dan server berbasis cloud.
Padahal, layanan AWS bukan hanya itu. Teknologi yang membuat berbagai peranti
menjadi cerdas laiknya asisten pribadi pun sudah digarap AWS. Bedanya, AWS
memungkinkan alat apa saja yang bisa tersambung ke jaringan internet berbasis
cloud menjadi secerdas yang dimungkinkan algoritma AI, ML, dan DL pada saat
ini. Seperti kata Jassy, target AWS adalah mendorong makin banyak munculnya
aplikasi cerdas dari para developer, mereka yang bahkan tak punya latar
belakang AI, ML, dan DL. Di balik layanan AWS, banyak manusia juga berbagi
kontribusi menjaga produk yang dihasilkan tak melanggar batas keamanan dan
etis. Di sini, fungsi manusia untuk memastikan aplikasi tak malah membahayakan
atau mencelakakan tetap pegang peranan sejak dari perancangan. Atau, merujuk
Leonhard, fungsi kurasi yang memastikan kualitas dan keunikan produk adalah
posisi tak tergantikan dari manusia, dengan teknologi adalah alat bantu yang
perkembangannya tak terhindarkan. Masih merasa terancam atau malah tertantang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar